Tempat Karaoke

Selasa, 17 Desember 2013
Tempat Karaoke - A place to do fun activities while indulging yourself and fill in the blanks when his quiet time. But many who make a routine of obligation hanging out at karaoke, as the workers who work in these places, because to make a living and support their families .

Karaoke much loved by children and young people who have grown, because it is exciting and can make us feel like being born again when finished from the spot of tempat karaoke. So it is not wrong if many people enjoy and entertain themselves in a place like that ?

Tempat Karaoke Identical with Immoral


But there are many who choose not to go tempat karaoke because they feel embarrassed to visit a place like that, due to a karaoke place usually synonymous with immoral acts that have become common knowledge what is happening in our beloved country for the time being. So.. if there is a pick looking for entertainment elsewhere is also their right .

As an educated course these things do not matter or exaggerated, whether he wants to go to a karaoke place or not, because it is in accordance with the desire and the choice of each individual, rather than fuss and blame each other, the better we promote mutual understanding among one another. Easy right ? Why should a headache itself when faced with a situation like this .

Article Tempat Karaoke that Make Dizziness


You dizzy by reading articles about karaoke place that is in front of you is this? no need to worry because this article only as my test in making a vicious circle theory by means of the same article. Does this have a positive or even vice versa ? just we see the results later.. hehehe : D So.. If you feel dizzy, I also experienced the same thing when Constructing artike Tempat Karaoke is not clear this.. hihihihihi : D

So do not blame the clarity of the article is not clear that more and more of this nonsense ? if you feel objection, it is your own personal problem, do not question let alone to call the police station .. hahahaha : D

Future of Linux

Senin, 02 Januari 2012
Bismillah

Menjadi Penyebar Virus Linux!!!!!, ayoo gunakan Linux Sekarang....

Future of Linux adalah Sebuah perusahaan perorangan yang membangun jaringan Nasional dan Internasional....
Komitmen kami adalah untuk membangun dan mewujudkan lebih banyak programer-programer yang mampu mewujudkan sebuah software( Perangkat Lunak ) didalam sistem operasi yang cepat, mudah, terkoneksi jaringan internet dengan baik, dan tentunya gratis alias free software serta opensource...
Namun disamping pembuatan software, juga mendidik agar keimanan dan ketaqwaan selalu dicapai dan didapatkan dan tentunya tidak hanya menguasai hanya pada dunia saja, namun untuk tetap bersungguh dalam beribadah, Aqidah yang Kuat, Serta Menjaga diri dari berbagai Gangguan yang menggoncangkan Keimanan...tentunya Islam, dan yang Menjadi Pedoman kami ialah Al-Qur'an dan Assunnah Yang shohih...dari berbagai sumber melalui para Ulama yang diAkui seluruh kaum muslimin di seluruh dunia, yang ulama tersebut berada di Yaman dan di Saudi Arabia......

Layanan kami adalah memodifikasi operating system gratis, opensource software dan layanan untuk perusahaan masa depan yang tidak mahal biaya pembangunannya terutama untuk kualitas perkantoran dan lainnya...

Tujuan Kami Mewujudkan layanan pembuatan software proprietary dan juga menciptakan software yang free dan opensource serta membangun para programmer muslim yang mampu terjun di lapangan, terkhusus kaum muslimin indonesia yang berkecimpung di dunia Teknologi Informasi, kami akan memberikan secara khusus yaitu kursus Linux secara online lewat facebook(syarat dan ketentuan berlaku) dan juga menciptakan layanan pada perusahaan yang akan bermigrasi dari Windows ke Sistem operasi GNU/Linux.......

Sejarahnya dahulu saya menggunakan Distro Linux slackware dan knoppix dalam satu harddisk laptop yang spesifikasinya masih dibawah rata-rata di Kampus UMY jogja sejak 2004 dan alhamdulillah baru didukung dosen ane yang baru datang dari Belanda dan beliau menawarkan Ubuntu, itu sekitar tahun 2007..............

Dukung Kami....bisa melalui dana dan sharing Ide yang membangun.....thanks...that's All

 

Tips Skripsi, Thesis, Dissertation oleh Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto

Kamis, 22 September 2011
Oleh Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc.

Skripsi - tugas akhir S1 - , ataupun Thesis - tugas akhir S2 - HARUS selesai dalam waktu 4 (empat) bulan karena 2 (dua) bulan diperlukan untuk ujian, revisi, dan proses yudisium.  Sifatnya sedikit berbeda. Untuk S1 tidak perlu ide baru (walau ide baru tidak dilarang, tetapi tidak harus) dan tidak diharuskan ada analisis yang mendalam. Selama ada desain hardware/software, ada prototipe hardware/software, ada pengujian (testing), dan ada kesimpulan. Untuk S2 diperlukan analisis yang lebih mendalam dan ada sedikit ide (tidak harus baru juga).

Dissertation (ini istilah USA utk tugas akhir S3, di UK tugas akhir S3 disebut Thesis sedangkan S2 disebut dissertation). Saya cenderung mengadopsi istilah UK, karena mahasiswa S3 diharuskan mempunyai pendapat (thesis) tentang sesuatu hal dan kemudian membuktikan/menguji pendapatnya dengan mambangun prototipe hardware/software. Mahasiswa S3 harus mempunyai ide baru atau memingrasikan ide X untuk problem Y menjadi ide X untuk problem Z. Misalnya konsep virus dalam ilmu biologi diterapkan pada konsep virus dalam ilmu komputer. Disseration S3 harus selesai dalam waktu 3 (tiga) tahun.
...
Skripsi, thesis, dan dissertation adalah proyek, karena itu diperlukan manajemen proyek. Dalam manajemen proyek, kita kenal segitiga proyek : scope (batasan masalah), cost (biaya), schedule (jadwal). Ketiga hal ini membentuk quality (kualitas). Dalam tugas akhir kita melakukan trade-off antara scope, cost, dan schedule. Bila schedule molor (ada keterlambatan) maka pasti berimplikasi pada cost (misalnya SPP yang harus dibayar). Karena itu, scope harus jelas sebelum kita mulai. Kejelasan ini dapat didukung dengan membaca banyak paper ilmiah jurnal (karen jurnal memuat paper yang telah direview oleh para pakar) dan yang diterbitkan belum lama lalu (masih baru) agar kita tidak terjerumus pada reinventing the wheel, melakukan penelitian S3 yang sudah bukan merupakan problem penelitian lagi. Artinya, pertanyaan riset kita telah lama terjawab.

Kondisi terburuk adalah bila kita menunda-nunda selesainya tugas akhir dengan harapan dengan bertambahnya waktu kita dapat ide yang lebih baik yang dapat meningkatkan kualitas tugas akhir kita. Di beberapa program studi dan perguruan tinggi, tugas akhir yang selesai tetapi waktunya molor, tidak mungkin memperoleh A, walau bagus sekali kualitasnya, karena melanggar kendala waktu. Lebih parah lagi, bila sudah ditunda penyelesaiannya, tugas akhir kita tetap saja jelek kualitasnya

Kebiasaan menunda-nunda ini disebut procrastination. Procrastination adalah musuh produktivitas.

Pekerjaan tugas akhir bukanlah magnum opus, bahkan pekerjaan S3 sekalipun. Kita tidak mencari greatness (kehebatan)  tetapi completeness (kelengkapan). Mahasiswa hanya diharuskan menunjukkan kompetensi untuk melakukan riset dan menerapkan metodologi riset yang tepat untuk judul yang ia pilih. Tidak pernah ada tugas akhir yang menyelesaikan persoalan dunia. yang ada adalah menyelesaikan satu persoalan kecil dan memunculkan persoalan-persoalan baru lainnya. persoalan-persoalan baru sebagai produk samping penelitian S3 tertuang dalam SARAN (Future Works).

Prinsip 1 :Do not get it perfect, get it done— Jangan menulis skripis/thesis/disertasi yang sempurna, selesaikan saja!
Prinsip 1 adalah akibat dari
Sifat 1 :A thesis must have a flaw— setiap thesis (skripsi, disertasi juga termasuk) pasti memuat kekurangan.
Hanya kitab suci (misalnya Al-Qur’an) yang tidak mengandung kesalahan — Wa lam yaj’alahu ‘iwajan —He has not made therein any crookedness(QS 18:1)

Mereka yang menganggap tugas akhirnya akan merupakann magnum opus, biasanya malah tidak segera selesai dan terancam drop-out. Mungkin karena mereka akan menulis ‘kitab suci’ maka Tuhan tdk pernah menolongnya. Mana mungkin Tuhan menolong ‘kompetitornya’?
Tugas akhir harus diawali dengan rencana (proposal) dan rute menuju tercapainya rencana. Kita juga harus tahu kapan berhenti (selesai).

Disertasi S3 haruslah memuat sesuatu yang baru bagi semua orang (new to everyone). Ini adalah hasil riset primer (primary research). Untuk memperoleh sesuatu yang baru bagi semua orang, mahasiswa S3 perlu melakukan riset sekunder(secondary research) untuk memperoleh sesuatu yang bersifat baru untuk dirinya (new to you). “New to you” diperlukan untuk memperoleh pengetahuan yang cukup mengenai topik penelitiannya.

Mengapa kita perlu membaca literatur (untuk mahasiswa S2/S3 dilarang membaca textbook. Bacalah paper dari jurnal internasional  bereputasi atau jurnal nasional terakreditasi. Textbook berisi informasi yang sudah usang bagi riset)?
menguasai literatur - misalnya paper terbaru tahun berapa, terbit di mana, idenya apa? memetakan komunitas - misalnya kelompok-kelompok riset di mana saja yang melakukan riset, apa perbedaan metodenya, apa keunggulan dan keterbatasan masing-masing. mengidentifikasi ceruk riset kita - apa kekhasan riset kita dan bagaimana posisinya dalam komunitas riset, utk mengetahui kontribusi kita
Disertasi S3 adalah suatu bukti kompetensi riset mhs S3:
penguasaan tentang topik penelitiannya kedalaman riset penghargaan atas disiplin ilmunya kemampuan meneliti secara mandiri (independent research) kemampuan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dan kaitannya dengan peneliti lain di bidangnya
Jadi disertasi S3 bukanlah magnum opus (sutau proyek penelitian yang hebat yang berakhir pada puncak kerja hebat), tetapi disertasi S3 adalah bukti kompetensi dan profesinalisme, bukan kehebatan!

Mhs S3 harus banyak membaca, menulis, mengelola bibliografi, mempublikasikan, berdiskusi dg pembimbing (promotor/kopromotor), membuat backup pekerjaannya, membaca disertasi di bidangnya dari hal 1 hingga halaman terakhir.

Mhs S3 harus mampu menunjukkan
(1)   kemampuan mengenali dan memvalidasi masalah penelitian
(2)   kemampuan berpikir secara orisinil, independen, dan kritis, serta kemampuan mengembangkan konsep teoritis
(3)   pengetahuan tentang perkembangan terkahir di bidang risetnya dan bidang-bidang yang terkait.
(4)   pemahaman tentang metodologi riset dan teknik riset yang relevan serta aplikasinya yang sesuai utk topik risetnya.
(5)   kemampuan menganalisis dan mengevaluasi secara kritis penemuannya dan penemuan orang lain
(6)   kemampuan merangkum, mendokumentasikan, melaporkan, dan melakukan refleksi atas perkembangan risetnya
(7)   pemahaman yang luas tentang konteks risetnya pada tingkat nasional maupun internasional
Perbedaan antara tahapan-tahapan riset S3 dapat dilukiskan sebagai berikut:
Mahasiswa S3 Tahun Pertama :
(1)   mengetahui bidang penelitiannya
(2)   membaca referensi untuk mengetahui apa yang telah diketahui orang (komunitas risetnya)
(3)   melakukan survey, koleksi data/fakta, dan membuat laporan
(4)   memikirkan bagaimana mengorganisir sumber-sumber/bahan penelitian
Mahasiswa S3 Tahun Kedua :
(1)   mengetahui topik penelitiannya
(2)   mengorganisir informasi
(3)   memikirkan bagaimana mengidentifikasikan research questions (pertanyaan-pertanyaan riset)
Mahasiswa S3 Tahun Ketiga :
(1)   mengetahui permasalahn yang ia teliti
(2)   memilih informasi yang relevan
(1)   (3)memikirkan apa yang sudah disebutkan dalam research questions

Mahasiswa S3 Tahun Keempat (menjelang lulus) :
(1)   memiliki research evidence (data-data pendukung thesisnya)
(2)   membaca referensi untuk mengetahui apa yang belum diketahui orang
(3)   mengevaluasi dan memilih informasi
(4)   memikirkan tentang apa yang belum dilakukan orang lain berkaitan dengan reserach questions yang dia angkat.
Mhs S3 harus mampu menunjukkan
(1)   memposisikan research question dalam peta bidang ilmunya
(a)   apa pentingnya research question tsb pada bidang ilmunya
(b)   posisi research question dalam kaitannya dengan riset serupa yang dilakukan peneliti lain
(c)    identifikasi dan kritik atas pendekatan/solusi alternatif
(2)   penguasaan istilah akademik bidang ilmunya
(a)   penggunaan istilah teknis secara benar
(b)   menjamin bahwa tdk terjadi salah ketik, salah tanda titik, koma, titik-koma, penggunaan tata bahasa yang kurang benar dsb.
(c)    menjamin kebenaran urutan penomoran tabel, gambar, listing program dsb. dan merujuknya secara benar di dalam teks disertasi (tidak boleh ada tabel, gambar, listing program yang tidak diberi nomor, atau sama sekali tidak dirujuk. Tidak boleh ada “seperti terlihat pada gambar di bawah ini”, tetapi sebaiknya “seperti terlihat pada gambar 3″)
(d)   menjamin bahwa semua referensi dalam daftar pustka dirujuk pada teks disertasi dengan cara perujukan yang benar. Bila daftar pustaka urut abjad nama terakhir penulis pertama, maka perujukannya dengan cara menyebut nama terakhir semua penulis disertai tahun terbit atau dengan penggunaan et.al bila penulis lebih dari dua orang. Pada daftar pustaka tdk boleh ada et.al (semua penulis harus ditulis).
Misalnya

Penulis : Abdullah Paimin, Siti Nurjannah Paijem, dan Maria Magdalena Painem
Judul : Implementasi Jaringan Sensor Nirkabel Berbasis Mikrokontroller dan Zigbee
Tahun Terbit ; 2008
Diterbitkan di : Proceedings Seminar Nasional Teknologi Informasi

maka di daftar pustka ditulis

Paimin, A., Paijem, S.N., dan Painem, M.M., 2008 : Implementasi Jaringan Sensor Nirkabel Berbasis Mikrokontroller dan Zigbee, Proc. Seminar Nasinoal Teknologi Informasi.

kemudian dirujuk dengan cara (Paimin et.al, 2008) atau (Paimin, Paijem dan Painem, 2008)

Bila perujukannya menggunakan angka, maka disusun urut kronologi perujukan. Di daftar pustaka,
[3]  Paimin, A., Paijem, S.N., dan Painem, M.M., 2008 : Implementasi Jaringan Sensor Nirkabel Berbasis Mikrokontroller dan Zigbee, Proc. Seminar Nasinoal Teknologi Informasi.

dan dirujuk dengan cara, misalnya, menurut [3]….dst
(3)   Penguasaan literatur yang terkait
Mulailah dengan membaca paper “review” atau “survey”, misalnya search di Google : “wireless sensor network a survey pdf” maka kita akan menemukan paper yang merangkum penelitian di bidang wireless sensor networks, wireless sensors and actor networks, wireless multimedia sensor networks, dsb. Peran survey paper atau review paper sangat besar karena menghemat waktu kita. Dari pada mencarti sendiri masing-masing paper (yang mungkin berjumlah ratusan), kita cukup membaca rngkumannya (tentu saja dengan tetap bersikap kritis) yang telah ditulis para peneliti kaliber dunia (biasanya review paper atau survey paper ditulis atas “undangan” journal penerbitnya dan biasanya dipilih tokoh dunia di bidang itu).
Karena mayoritas literatur ditulis dalam bahasa Inggris, maka TOEFL/IELTS merupakan syarat bagi banyak program S3. Sedikit sekali mhs S3 yang bisa survived dengan TOEFL ’seadanya’. Cara mempelajari bhs Inggris adalah denga  memperhatikan pola-pola dan memperhatikan bagaimana orang Inggris menggunakan kata-kata bhs Inggris.
(4)   Metodologi riset :
bidang yang berbeda mengadopsi metodologi riset yang berbeda. Bahkan dalam keluarga Computing Curricula 2008 (Computer Science, Computer Engineering, Software Engineering, Information Systems, dan Information Technology) pun berbeda-beda, walau satu keluarga. Mhs S3 harus menguasai betul metodologi riset di bidangnya : apa yang dianggap sbg data, bukti riset, bgmn data dianalisis, dsb. serta mampu mengkritisi pendekatan tersebut terkait dengan keunggulan dana kelemahannya.
(5)   Penguasaan teori dibidangnya.
Teori sebaiknya diperoleh dari paper, bukan dari textbook. Sebuah thesis/disertasi bukan sebuah produk jadi. Kalau dalam pekerjaan S3 diperlukan menulis software atau menyusun hardware, maka software dan hadware tersebut ‘hanya’ diperlukan untuk membuktikan pendapat (thesis) mhs S3. Mhs S3 adalah researcher, bukan developer. Tidak ada gunanya menyusun software/hardware yang memnuhi kualitas industri, cukup prototype saja.

(6)   Kedewasaan akademik (academic maturity)
Promotor/ko-promotor hanyalah memberi masukan. Setelah itu, terserah mhs S3 sendiri. Promotor/ko-promotor tdk bertugas mengkoreksi salah ketik, mereka hanya ada untuk mengkritisi posisi disertasi apakah sudah layak uji atau belum.  Disertasi adalah pekerjaan independen mhs S3, karena itu diperlukan kedewasaan akademik. Ketika saya ujian Ph.D, maka saya hanya menghadapi penguji internal, dan penguji eksternal. Supervisor saya tdk ada di ruang ujian, bahkan tidak menandatangani Thesis S3 saya. Di UGM, seorang promovednus harus berhadapan dengan 9 (sembilan) orang penguji. Di UK, ujian S3 dinamakan Ph.D Viva.
Sebuah proposal untuk penelitian S3 harus pula memenuhi syarat “doability” (dapat diselesaikan) dalam waktu 3 (tiga) tahun. Sebuah proposal yang memuat pertanyaan riset yang layak untuk pekerjaan S3 tetapi tidak dapat diselesaikan dalam waktu 3 tahun, bukanlah sebuah proposal yang baik. Isi proposal, selain pertanyaan riset, juga harus memuat jadwal pengerjaan (biasanya dikemukakan dalam bentuk Gantt Chart), serta metodologi penelitiannya (biasanya dikemukakan dalam bentuk flowchart).
-----
ok semoga bermanfaat...

copast dari tulisannya pak Agfianto di catatan forum group facebook Pintar Embedded System

 

Udien